Fakfak dan Raja Ampat Sepakat Mendorong Pengembangan Ekowisata

Raja Ampat, MediaCenter- Bupati Kabupaten Raja Ampat dan Bupati Fakfak di Provinsi Papua menandatangani sebuah perjanjian bersama atau memorandum of undestanding (MoU) terkait pengembangan ekowisata.  Penandatangan MoU yang berlangsung di Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Rabu, (10/4/2019) tersebut disaksikan pejabat kedua daerah dan pelaku usaha wisata yang tengah melakukan studi banding di Raja Ampat.

Bupati Kabupaten Fakfak, Dr. Mohammad Uswanas menjelaskan Raja Ampat sebelumnya merupakan daerah yang ekosistem terumbu karangnya rusak, namun saat ini katanya sudah jauh berbeda, berkat kesadaran masyarakat, pemerintah dan seluruh elemen didalamnya dalam menjaga seluruh potensi sumber daya alamnya.

Diakuinya untuk menjadi destinasi wisata dunia karena dukungan masyarakat. Salah satunya kearifan lokal untuk menjaga sumber daya alam.  Ini juga karena adanya komitmen bersama yang dimulai dari kampung. Bukan dari orang-orang kota. Pengembangan ekowisata ini mulainya dari kampung. Ekotourism itu berawal dari kampung. Itu yang buat saya ajak kesini. 

Uswanas mengakui komitmen masyarakat dan pemerintah untuk menjaga sumber daya alam ini mendorongnya untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

 “Ada dua point utama dari MoU dengan pemda Raja Ampat ini, pertama terkait komitmen konservasi sumber daya laut dan kemungkinan pengembangan ekoturisme. Dan bicara dua hal ini, kita perlu sandar ke Raja Ampat,” ujar Uswanas.

Ia berharap MoU dengan pemda Raja Ampat membawa dampak positif bagi pengembangan wisata di Kabupaten Fakfak. “Kita berharap nantinya peta wisata di Papua Barat setelah Raja Ampat harus ke Fakfak. Fakfak harus jadi destinasi wisata berikutanya,” ujarnya.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, SE menyambut baik komitmen membangun  kerja sama dalam pengembangan ekowisata tersebut.

Welcome, jika Raja Ampat jadi rujukan,” ujar AFU, sapaan Abdul Faris Umlati dalam sambutannya.

Ia mengakui upaya menjadikan Raja Ampat sebagai destinasi internasional bukanlah perkara muda. Butuh dukungan masyarakat, stakeholder dan smua pihak.

 “Masyarakat hars menjadi pelaku wisata.  Kearifan lokal perlu dijaga. Kita juga menjaga ekosistem dan semua potensi yang ada. Karena potensi ini bukan hanya milik kita saat ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.

Ia berharap nota kesepahaman antara Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Raja Ampat dapat mengangkat nama Papua Barat  ke level internasional melalui wisata.  (Petrus Rabu/MC Raja Ampat)

'