Bupati Raja Ampat Ajak Peserta Upacara Doakan Korban Gempa Dan Tsunami Palu-Donggala

Waisai, KominfoR4 – Bupati Kabupaten Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, SE meminta peserta upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk mendoakan bagi korban gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Permintaan ini disampaikan  Abdul Faris Umlati saat dirinya menyampaikan pidato pada Upacara Memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang berlangsung di Halaman Kantor Bupati Raja Ampat, Senin (01/10).

“Sebelum saya melanjutkan sambutan ini saya meminta kita semua menundukan kepala sejenak kita seraya berdoa bagi korban gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu,” ujar Abdul Faris Umlati seraya menyampaikan turut belangsungkawa.

Sesaat seluruh peserta upacara yang dihadiri Wakil Bupati Raja Ampat, Manuel Piter Urbinas S,Pi,  M.Si, Kapolres Raja Ampat AKBP, Edy Setyanto Erning W,SIK, Dandim 1805,  Letkol Inf Yosef. P.Kaiba, Danposal AL Elhas, Sekda Raja Ampat Yusup Salim MSi, pimpinan OPD, Pegawai , pelajar dan sejumlah tamu undangan dengan hening menunduk kepala seraya berdoa. Suasana hening berlangsung beberapa menit, setelah itu bupati melanjutkan pidatonya.

Dalam pidatonya, AFU sapaan Abdul Faris Umlati menegaskan peringatan Hari Kesaktuan Pancasila bermaksud menggugah dan menggelorahkan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme dalam memegang teguh pancasila sebagai dasar negara agar tetap hidup dan terjaga dalam hati sanubari anak bangsa.

"Bung Karno merumuskan pancasila sebagai kata kungci membangun bangsa yang menghargai keberagaman," ujar AFU. 

Untuk itu katanya, pancasila adalah semangat untuk bergandeng tangan menuju cita cita besar maka semua anak bangsa sudah seharus memiliki nilai-nilai Pancasila dalam pola pikir, ucapan, tindakan, sikap dan perbuatan.  

“Untuk itu tepat kiranya tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2018  ini adalah " Pancasila Sabagai Landasan kerja mencapai Prestasi Bangsa,” ujar AFU

Lebih lanjut dikatakannya fenomena dalam beberapa tahun ini terjadi lintas batas nilai-nilai antar bangsa, bahkan antar komunitas, atau kelompok masyarakat yang lebih kecil, di antara nilai-nilai atau faham yang melintas batas itu ada paham radikalisme. Faham ini karakternya selalu merasa yang paling benar sendiri dan mengabaikan hak hak dasar orang lain.

"Saya mengajak seluruh elemen yang ada di Kabupaten Raja Ampat, mari kita tunjukan bahwa Kabupaten Raja Ampat sebagai minitur NKRI, kabupaten yang toleran, menghargai dan menghormati manusia sebagai ciptaan yang Maha Kuasa,” tambahnya.

Laporan: Imha Alwohit

Editor : Petrus Rabu

'